Dibutuhkan sebuah kecerdasan tersendiri untuk berkelit dari lika-liku kehidupan sehari-hari yang semakin pelik dan sulit ini. Disaat harga-harga semua kebutuhan naik, sementara pendapatan per bulannya tidak ada kenaikan, maka tidak ada jalan lain kecuali memaksimalkan setiap waktu dan tenaga yang tersedia untuk berpikir bagaimana memcari tambahan penghasilan. Tidak cukup hanya dengan berpikir, langkah-langkah nyata harus segera diambil agar peluang ada tidak sampai disambar orang lain.
Seperti dilakukan oleh sekelompok warga di Desa Jlumpang Nganjuk, mereka bersekutu untuk membentuk sebuah usaha padat karya. Walaupun bukan usaha skala besar, tetapi lumayan untuk menambah penghasilan keluarga, sekaligus memperkuat persatuan ekonomi masyarakat.
Peluang menambah penghasilan yang diambil warga Jlumpang ini sebenarnya bukan hal yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Mereka tidak menciptakan bensin yang terbuat dari air, atau menanam padi dari biji bunga Matahari. Mereka hanya melakukan apa yang biasa dilakukan masyarakat kita, sejak jaman nenek moyang kita ketika musim kemarau tiba, yaitu memproduksi batu bata secara tradisional.
Karena caranya masih tradisional, tentu saja tidak ada yang berbeda dengan pembuatan batu bata pada umumnya, sehingga mungkin tidaklah menarik untuk membahasnya. Tetapi, jangan dulu berpikir begitu, karena tetap ada sisi menarik dari apa uang mereka lakukan, yaitu kecerdasan dan kecermatan mereka dalam mengintip dan menangkap peluang. Bukankah sekali lagi, dalam kondisi serba sulit ini dibutuhkan kecerdasan berpikir untuk menghasilkan rupiah demi rupiah sebagai penambal kebutuhan yang semakin mendesak.
Apalagi persekutuan usaha ini dibangun oleh beberapa orang yang masih terhitung keluarha. Jainudin (48) sebagai anggota keluarga tertua bertindak sebagai penyandang dana utama, sekaligus sebagai menejer yang mengurusi bagi hasil penjualan dan pemasaran hasil produksi. Sementara Jamingan (45), sang adik, bertindak sebagai penanggung jawab produksi. Kemudian anak, dan beberapa keponakan yang lain berperan sebagai karyawan produksi, mencetak batu bata sebanyak-banyaknya dan membalar batu bata yang telah kering.
Tidak ada administrasi, surat kontrak, kesepakatan kerja, ataupun segala macam tetek bengek surat menyurat yang lain. Yang ada hanyalah kesepahaman dan saling pengertian, bahwa mereka sama-sama terjepit oleh keadaan dan butuh jalan untuk mengatasi persoalan ekonomi sehari-hari.
Pekerjaan dimulai dengan mecari tanah sawah yang sesuai, untuk disewa sebagai basis produksi. Tanah pun didapat dengan perjanjian sewa secara lisan, yaitu; sawah seluas 800 m2 dengan harga Rp. 6.000.000, akan dikeruk sedalam 50 cm, seluas tanah tersebut, sebagai bahan utama produksi.
Jainudin yang telah berpengalaman menjelaskan dengan asumsi total biaya sebesar Rp. 23.000.000, sudah termasuk ongkos karyawan dan biaya pembakaran, akan didapat hasil total sekitar Rp. 45.000.000, sehingga sisa sekitar Rp. 22.000.000 sudah merupakan angka yang lumayan untuk dibagi dengan seluruh anggota persekutuan yang masih keluarga tersebut.
Setiap orang jawa diikat oleh pertalian keluarga yang sangat erat, saking kuatnya sampai muncul peribahasa “Mangan ora mangan kumpul”. Dapat dibayangkan, seandainya dalam tiap-tiap keluarga tersebut ada satu saja seorang motivator dan menejer handal semacam Jainudin, penulis yakin tidak bakalan ada pengangguran mutlak di negeri ini. Bukankah industri di Tiongkok pun dibangun berawal dari persekutuan-persekutuan usaha keluarga, yang kemudian juga mendapat dukungan dari pemerintah sehingga bisa menjadi besar dan mengglobal.
Post A Comment:
0 comments:
Posting Komentar