Sampah termasuk persoalan keseharian yang gampang-gampang susah di atasi. Menjadi sulit karena sampah adalah limbah yang setiap hari terus di produksi, baik oleh manusia maupun alam. Akan tetapi juga bisa di katakan gampang karena di alam raya ini telah tersedia sebuah mekanisme untuk menghancurkan sampah dalam tanah, hal ini bisa terlaksana jikalau sampah di maksud bukan dari bahan logam dan plastik.

Kota Kediri untuk ukuran Provinsi Jawa Timur, termasuk dalam jajaran 5 kota terbesar. Bahkan secara kesejarahan, Kediri (Kerajaan Kediri) adalah salah satu kerajaan besar di tanah jawa, yang di kemudian hari juga menjadi runtutan dari lahirnya kerajaan-kerajaan besar di tanah jawa, termasuk Majapahit, Demak, dan seterusnya sampai masa kejayaan kerajaan Mataram Islam di Jawa Tengah. Dengan seganap aspek kebesaran sejarah masa lalu, maupun kekinian dan masa mendatang yang sekarang membentang, masalah-masalah yang dihadapi tentunya semakin rumit dan membutuhkan penanganan yang profesional dari segenap jajaran birokrasi Pemerintah Daerah setempat.

Ketika kemarin (28/02) Tempat Tembuangan Akhir Klotok yang merupakan media paling akhir untuk mengolah/mendaur ulang sampah dari Kota Kediri ambrol, bisa saja hal itu merupakan warning bagi masyarakat untuk lebih waspada dalam penanganan sampah di masa mendatang. Peristiwa ambrolnya TPA Klotok menjadi sebuah sinyal tanda bahaya bahwa persoalan sampah di Kota Kediri akan segera menjadi masalah rumit, sebagaimana lazim dialami oleh kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, dll.

Dari berbagai kota besar tersebut sebenarnya telah tergambar sebuah pelajaran bahwa sampah dan pengelolaannya menjadi masalah utama selain tingkat pengangguran dan kriminalitas, yang paling sulit di tuntaskan. Mulai dari budaya tidak disiplin dalam hal kebersihan lingkungan, sampai penataan atau pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir. Kegagalan pengelolaan sampah terlihat sangat akrab dengan pemerintahan kota-kota besar di Indonesia.

Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor yang menjadi sebab. Beberapa pakar lingkungan mengeluhkan budaya masyarakat yang membuang sampah di sembarang tempat. Sementara aparat pemerintahan justru menganggap kurangnya alokasi dana kebersihan menjadi sebab utama, sehingga pengolahan sampah yang semestinya juga melibatkan pengetahuan dan teknologi modern tidak bisa di terapkan. Padahal penguasaan pengetahuan dan teknologi yang terkait dengan bidang persampahan mutlak sangat di perlukan, termasuk oleh pemerintah kota Kediri.

Secara tradisi, bisa jadi ada benarnya bahwa masyarakat sangat sulit untuk di sadarkan akan pentingnya budaya bersih, tidak membuang sampah sembarangan. Bukan berarti secara kultur masyarakat kita adalah masyarakat yang kumuh, akan tetapi hal ini sebenarnya bisa di lacak dari akar sosio historis epistemologis masyarakat Indonesia yang kehidupan masyarakatnya di bangun di atas fondasi peradaban agraris/pertanian. Sebagaimana lazimnya masyarakat petani desa jaman dahulu, struktur bangunan tempat tinggalnya hampir bisa di pastikan terdiri dari bagian-bagian seperti dalam bagan berikut ini:








Halaman






Kandang ternak
Rumah tinggal


sumurlubang sampah

Dari gambaran tersebut, bisa di ambil sebuah kesimpulan bahwa masyarakat kita semenjak dahulu terbiasa untuk membuang/menumpuk sampah di belakang rumah. Bahkan terkadang tidak peduli apakah di belakang rumah ada lubang tempat menimbun sampah ataukah tidak, tetap saja yang namanya sampah di tumpuk di pekarangan belakang. Di daerah pedesaan jaman dahulu hal seperti ini tidak pernah di persoalkan, karena umumnya sampah yang di hasilkan masih bisa di proses oleh tanah, bahkan bisa untuk menambah kesuburan tanah, seperti dedaunan yang rontok di halaman, bekas bumbu dapur, atau kotoran hewan ternak.

Akan tetapi di era modern seperti sekarang ini, tidak peduli di desa ataupun kota, pola pengelolaan sampah tradisional seperti tersebut di atas menjadi masalah serius bagi kelangsungan lingkungan di masa uang akan datang. Hal ini di karenakan sampah yang di hasilkan rumah tangga modern berupa plastik atau logam mengandung bahan kimia yang tidak bisa di uraikan oleh tanah dalam jangka waktu kurang dari 20 tahun. Sehingga, persoalan yang pada mulanya sederhana ini harus mendapatkan perhatian lebih besar apabila masih ingin bumi tempat kita tinggal ini terjaga kelestariannya sampai generasi anak cucu kita.

Untuk itu, pengetahuan dan teknologi modern dalam pengolahan sampah di Kediri mutlak harus segera di kuasai, apabila kita tidak ingin Kediri tenggelam oleh tumpukan sampah yang tidak terurus. Mendapatkan penghargaan Adipura bukanlah sebuah substansi yang berarti bahwa masalah sampah di Kediri sudah teratasu dengan baik, jebolnya TPA Klotok telah mengatakan sesuatu pada masyarakat Kediri, bahwa pemkot masih belum profsional dan memenuhi standar pengolahan sampah secara modern, entah karena keterbatasan alokasi dana, ketidakberdayaan sumber daya manusia, ataukah dua-duanya. (rz)
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: