Menyusul di publikasikannya hasil penelitian tim ITB tentang susu formula bayi yang mengandung bakteri beberapa minggu yang lalu, para ibu rumah tangga yang selama ini mengkonsumsi susu formula untuk bayinya mengaku resah, dan memilih beralih ke jenis susu yang lain. Paling tidak untuk sementara sampai pemerintah memastikan bahwa susu formula benar-benar aman di konsumsi oleh bayi mereka. Demikian di tegaskan oleh ibu Lilik (29), ketika di temui koran ini di sebuah swalayan di kota Kediri. Sambil menunggu kepastian dari pemerintah, dirinya mengaku beralih ke susu sapi segar untuk konsumsi bayinya sehari-hari.

Semenjak tim ITB mempublikasikan temuan bakteri enterobacter sakazakii yang terkandung dalam susu formula bayi, penjualan susu khusus bayi di kota Kediri langsung anjlok. Salah seorang karyawan swalayan yang biasa menyediakan produk-produk makanan bayi menyebutkan penjualan susu khusus bayi di tempatnya bekerja mencapai 30%. Dirinya mengaku tidak bisa berbuat apa-apa atas keadaan tersebut.

Meskipun demikian susu formula masih tetap di pajang di rak-rak toko seperti biasa, karena memang belum ada instruksi untuk melakukan penarikan produk dari dinas terkait. Hal ini di sebabkan masih simpang siurnya kepastian aman atau tidaknya susu formula di konsumsi. Pemerintah sendiri melalui BPPOM di Jakarta terkesan ogah-ogahan dalam menyikapi masalah ini.

Sementara itu seorang ibu muda yang tinggal di kawasan Ngronggo, Lusi (31) menyesalkan tindakan pemerintah yang terkesan lambat dalam menyikapi hasil temuan tersebut. Menurutnya pemerintah seharusnya bertindak cepat untuk menyelidiki lebih lanjut hasil temuan tersebut, sambil susu formula yang terindikasikan tercemar sebaiknya di tahan dulu peredarannya. Hal ini penting dilakukan demi melindungi hak-hak keselamatan konsumen yang di jamin oleh undang-undang. Ibu muda yang juga berprofesi sebagai guru ini menambahkan, “Apa pemerintah mau bertanggung jawab kalau sampai terjadi apa-apa dengan bayi saya!”, tuturnya dengan nada sedikit keras.

Di Jakarta Menteri Kesehatan Siti Fadhillah Supari akhirnya menginstruksikan kepada jajaran BPPOM untuk segera menyelidiki penemuan bakteri dalam susu formula bayi tersebut. Hal ini di lakukan setelah sebelumnya hasil penelitian penelitian tim ITB di ragukan keakuratannya. Namun setelah melihat kondisi masyarakat yang mulai takut membeli susu formula, akhirnya pihak Departemen Kesehatan turun tangan juga.

Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan dan BPPOM seharusnya lebih pro aktif untuk menindak lanjuti temuan dari sebuah lembaga pendidikan tinggi yang kapabilitasnya cukup lumayan tersebut. Paling tidak bisa dilakukan dengan mengundang peneliti yang bersangkutan untuk mempresentasikan hasil temuannya agar bisa di ambil langkah-langkah kebijakan untuk melindungi kepentingan konsumen yang memang sudah semestinya di kedepankan. Bukannya malah menuduh lembaga penelitian yang bersangkutan telah menerima bayaran dari pihak-pihak tertentu untuk mengganggu pemerintahan. Untuk sekali lagi pemerintah harus belajar untuk lebih dewasa dalam menyikapi sebuah temuan yang memang tidak mengenakan tersebut, untuk kemudian mengingat bahwa kepentingan rakyatlah yang harus di utamakan. (rz)
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: