Jaman sekarang ini siapa yang tidak mengenal Ha-Pe (Hand Phone)? Mulai dari anak TK sampai yang tua, dari yang bermukim di desa sampai kota hampir semuanya mengenal perangkat komunikasi modern ini. Tiba-tiba saja Hp menjadi perangkat yang wajib dimiliki oleh setiap waarga negara. Bukan lagi sekedar kebutuhan untuk berkomunikasi mudah dan cepat, tetapi melebihi itu semua Hp sudah sudah menjadi perlengkapan “mejeng”, atau kaum muda sekarang menyebutnya gaya hidup, yang berarti hidup sekarang tidak “nggaya” kalau tidak punya Hp.
Akan tetapi siapa yang bisa membantah bahwa biaya yang mesti dikeluarkan untuk “nggaya” tersebut sangatlah tidak murah. Paling tidak kita harus mengeluarkan uang saku ekstra beli pulsa untuk anak-anak kita diluar uang saku sekolah dan uang saku untuk jajan. Belum lagi kebutuhan pulsa untuk kita sendiri dan anggota keluarga yang lain, karena sudah lazim setiap anggota keluarga memiliki perangkat ini, bahkan ada yang satu orang sampai memiliki dua nomor.
Dalam beberapa waktu terakhir ini media banyak mengekspos kontroversi bisnis seluler yang dilakukan grup temasek singapura melalui Telkomsel dan Indosat diindonesia. Melalui kepemelikan silang pada kedua perusahaan tersebut temasek telah berhasil memaksakan monopoli, dan bahkan hegemoni atas layanan seluler di negeri ini. Bertahun-tahun kita seperti orang buta yang menurut saja terhadap pentarifan jasa layanan seluler yang jauh lebih mahal diatas harga normal. Sesungguhnyalah telah lama kita dirugikan secara terang-terangan oleh kedua perusahaan tersebut, akan tetapi hal tersebut baru saja kita ketahui karena baru terungkap oleh KPPU.
Dibandingkan dengan negara lain dikawasan, atau bahkan didunia, tarif seluler kita termasuk yang paling mahal berkali-kali lipat. Ambil contoh biaya sms reguler yang rata-rata Rp. 350, bandingkan dengan India yang hanya Rp. 90. hal ini biosa terjadi karena bisnis seluler di indonesia pada hakikatnya telah terjadi monopoli, sehingga operator bisa dengan sewenang-wenang menentukan tarif. Atau bandingkan ketika kran persaingan antar operator dibuka, ada banyak operator yang berani menawarkan tarif sms antar operator hanya Rp. 100 (belum termasuk pajak), yang tentu saja operator tersebut sudah meraup laba.
Sebagai perusahaan besar yang sudah lama beroprasi di indonesia, telkomsel seharusnya merasa malu karena telah bertahun-tahun melakukan pembohongan dan pembodohan publik. Tidak cukup hanya dengan rasa malu, telkomsel mau-tidak mau harus menurunkan tarifnya sampai batasan normal, karena ini sudah merupakan bagian dari hak pelanggan untuk mendapatkan harga yang wajar. Lagi pula bukankah telah bertahun-tahun telkomsel meraup laba yang besar, masih ditambah penilepan pajak segala, jadi saya pikir telkomsel sudah cukup kaya raya, dan pastinya modal juga sudah banyak yang kembali.///REZA ANDIK S////
Akan tetapi siapa yang bisa membantah bahwa biaya yang mesti dikeluarkan untuk “nggaya” tersebut sangatlah tidak murah. Paling tidak kita harus mengeluarkan uang saku ekstra beli pulsa untuk anak-anak kita diluar uang saku sekolah dan uang saku untuk jajan. Belum lagi kebutuhan pulsa untuk kita sendiri dan anggota keluarga yang lain, karena sudah lazim setiap anggota keluarga memiliki perangkat ini, bahkan ada yang satu orang sampai memiliki dua nomor.
Dalam beberapa waktu terakhir ini media banyak mengekspos kontroversi bisnis seluler yang dilakukan grup temasek singapura melalui Telkomsel dan Indosat diindonesia. Melalui kepemelikan silang pada kedua perusahaan tersebut temasek telah berhasil memaksakan monopoli, dan bahkan hegemoni atas layanan seluler di negeri ini. Bertahun-tahun kita seperti orang buta yang menurut saja terhadap pentarifan jasa layanan seluler yang jauh lebih mahal diatas harga normal. Sesungguhnyalah telah lama kita dirugikan secara terang-terangan oleh kedua perusahaan tersebut, akan tetapi hal tersebut baru saja kita ketahui karena baru terungkap oleh KPPU.
Dibandingkan dengan negara lain dikawasan, atau bahkan didunia, tarif seluler kita termasuk yang paling mahal berkali-kali lipat. Ambil contoh biaya sms reguler yang rata-rata Rp. 350, bandingkan dengan India yang hanya Rp. 90. hal ini biosa terjadi karena bisnis seluler di indonesia pada hakikatnya telah terjadi monopoli, sehingga operator bisa dengan sewenang-wenang menentukan tarif. Atau bandingkan ketika kran persaingan antar operator dibuka, ada banyak operator yang berani menawarkan tarif sms antar operator hanya Rp. 100 (belum termasuk pajak), yang tentu saja operator tersebut sudah meraup laba.
Sebagai perusahaan besar yang sudah lama beroprasi di indonesia, telkomsel seharusnya merasa malu karena telah bertahun-tahun melakukan pembohongan dan pembodohan publik. Tidak cukup hanya dengan rasa malu, telkomsel mau-tidak mau harus menurunkan tarifnya sampai batasan normal, karena ini sudah merupakan bagian dari hak pelanggan untuk mendapatkan harga yang wajar. Lagi pula bukankah telah bertahun-tahun telkomsel meraup laba yang besar, masih ditambah penilepan pajak segala, jadi saya pikir telkomsel sudah cukup kaya raya, dan pastinya modal juga sudah banyak yang kembali.///REZA ANDIK S////
Post A Comment:
0 comments:
Posting Komentar