TRENDING NOW


Calon Gubernur (Cagub) Jawa Timur Sutjipto dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Timur Ali Maschan Moesa meraih kemenangan mutlak di kandang masing-masing.

Sutjipto mendulang kemenangan di daerah kelahirannya di Desa Pucang Anak, Kecamatan Tugu, Trenggalek. Pria yang berpasangan dengan Ridwan Hisjam itu meraup 1.380 suara. Jauh menggalahkan empat pasangan lainnya, yang hanya di kisaran 100-an. Yakni Ka-Ji (108), Salam (124), Achsan (39) dan KarSa (113).

Dari enam tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di Desa Pucang Anak, seluruhnya dimenangkan oleh pasangan yang diusung PDIP tersebut. Seperti TPS 1 misalnya, pasangan berslogan Suara Rakyat (SR) itu mendapat 195 suara. Sedangkan Ka-Ji (18), Salam (13), Achsan (3) dan KarSa (24).

Sedang Ali Maschan Moesa juga menang mutlak tempat kelahirannya di Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Di TPS 10 Ketanonn,

pria yang berpasangan dengan Soenarjo itu meraup 245 suara dari 351 suara sah.

Di urutan kedua pasangan SR (36), disusul pasangan KarSa (31), berikutnya Kaji (28) dan terakhir Achsan (11). Sedangkan yang rusak 9 suara.

Ibunda Ali Maschan Moesa Hj. Mutmainnah, 69, warga Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, datang ke TPS 10 di SDN 1 Ketanon. Setelah mengunci pintu rumahnya dia lalu melangkah keluar pagar sendirian. Karena TPS terletak lumayan jauh sekitar 500 meter dari rumah, akhirnya dia numpang motor pada salah satu wartawan yang hendak meliputnya. "Becaknya ditunggu-tunggu belum datang," ucap ibu lima anak ini.

Tiba di TPS, Mutmainnah langsung masuk ke ruang kelas III, tempat pencoblosan. Lantaran sepi, dia tak perlu antre. Langsung dipanggil petugas KPPS agar segera mencoblos. Usai mencoblos, Mutmainnah langsung memasukkan kartu suara ke kotak suara dan bergegas meninggalkan TPS.

Mutmainnah mengaku tak mendapatkan firasat sebelumnya. Hanya saja dia sempat ditelepon Ali Maschan dua hari lalu. Waktu itu Maschan menanyakan kesehatan Mutmainnah. "Waras Bu? Aku yo waras," ucap Mutmainnah menirukan ucapan putranya.

Istri almarhum Musa Al Ashari itu mengatakan merestui langkah anak keduanya untuk macung dalam pilgub kali ini. Untuk mendoakan keberhasilan Maschan, dia berusaha mengkhatamkan Alquran menjelang coblosan. "Ternyata belum bisa khatam, banyak tamu yang datang," ucapnya

Angka golongan putih (golput) alias tak menggunakan hak suaranya dalam pilgub Jatim sangat tinggi. Di Trenggalek, dari 575.850 daftar pemilih tetap (DPT), yang tak menyalurkan hak politiknya mencapai 231.442 suara atau 40,1 persen. Dengan begitu, golput lah yang menjadi pemenang dalam coblosan yang digelar pada Rabu, 23 Juli, dua hari lalu.

Sebesar 59,9 persen dibagi lima pasangan cagub-cawagub yang bertarung. Rinciannya; perolehan Kofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) 57.363 suara; Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR) yang mengumpulkan 115.001 suara; Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam) mendulang 92.368 suara; Achmady-Suhartono (Achsan) mendapat 22.214 suara; terakhir pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) mengumpulkan 57.462 suara. Total 344.408 warga yang menyalurkan hak politiknya.

Dari Tulungagung dilaporkan, angka golput diperkirakan mencapai 40 persen. Ini terlihat dari banyaknya angka ketidakhadiran masyarakat berdasarkan perolehan hasil penghitungan sementara oleh KPUD Tulungagung kemarin.

Dijelaskan Ketua Divisi Pemungutan dan Penghitungan Suara KPUD Tulungagung Adib Makarim, baru 70 persen suara yang sudah masuk hingga siang kemarin. Adib mengatakan 40 persen angka golput ini paling banyak orang laki-laki. "Saya belum tahu jumlah persisnya, tapi ini bisa dihitung dari jumlah pemilih laki-laki dan perempuan yang paling banyak tidak hadir adalah laki-laki," ucap Adib.

Ditambahkannya, banyaknya laki-laki yang tidak hadir ini lebih dikarenakan kesibukan kerja. Dibandingkan perempuan yang lebih banyak menjadi ibu rumah tangga. "Saya kira lebih karena sibuk bekerja, lalu ada yang menjadi TKI," lanjut Adib.

Sementara itu, hingga pukul 13.30 kemarin KPUD Tulungagung telah memperoleh hasil penghitungan dari 14 kecamatan. Hasilnya kemenangan untuk pasangan Soedjipto-Ridwan Hisjam dengan perolehan 94.451 suara, disusul kemudian pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa sebesar 78.095 suara di urutan kedua. Berikutnya pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf sebanyak 66.265 suara, baru pasangan Khofifah Indar Parawangsa dan Moedjiono di urutan ke empat mengumpulkan sebanyak 59.220 suara. Terakhir pasangan Achmady-Soehartono dengan 16.467 suara.

Jumlah kehadiran sebanyak 335.220, suara sah 322.832 dan suara tidak sah 13.040.

Makam Akan Dibongkar untuk Uji Forensik dan DNA

Kontroversi makam Tan Malaka di Kediri terus berlanjut. Warga Selopanggung mengklaim kalau di TPU di desanya itulah Tan Malaka dimakamkan. Hanya, kebenaran soal itu masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah.


Menemukan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Selopanggung Kecamatan Semen bukan hal yang mudah. Jalan sejauh dua kilometer dari jalan raya Selopanggung-Besuki harus ditempuh. Tidak itu saja kondisi jalan yang naik turun dan kecil membuat pengemudi harus berhati-hati dalam mengendarai kendaraannya.

Setelah melewati jalan makadam sejauh 500 meter juga harus dilalui. Setelah itu barulah TPU Desa Selopanggung itu bisa diketahui. Sekilas tak ada yang aneh dengan makam seluas 25 meter persegi tersebut. Letak makam berada di bawah jalan sekitar tiga meter. Di kanan dan kiri makam terdapat sawah yang ditanami pohon kacang. Puluhan patok dengan identitas orang yang meninggal tertulis di sana. Beberapa makam juga masih ada taburan bunga dan buah kelapa.

Namun dari puluhan makam itu terdapat dua makam yang tidak ada identitasnya. Yang satu ditumbuhi pohon kamboja dengan tinggi sekitar tiga meter dan diameter satu meter. Sedangkan makam yang ada di sebelahnya ditandai batu.

Makam siapakah itu? Untuk makam yang ditandai pohon kamboja, versi ketua RT 02/RW 03 Dusun/Desa Selopanggung Khoirul Anam, makam yang ditandai dengan pohon kamboja itu adalah makam Mbah Selo. Mbah Selo ini dianggap sebagai sesepuh desa. Karena itulah nama Selopanggung diambilkan dari kata Selo dari Mbah Selo.

Lalu bagaimana dengan makam yang dikasih tanda batu? Tak jelas makam siapakah tersebut. Karena tidak ada identitasnya. Karena itulah, makam yang dikasih tanda batu itu diduga sebagai makam Tan Malaka. Dugaan itu berdasarkan perkiraan dan cerita dari mulut ke mulut tentang kematian Tan Malaka di tempat tersebut.

Hal inilah yang membuat sejarawan asal Belanda Harry A. Poeze dan kerabat Tan Malaka, Ibarsyah dan Zulfikar memngunjungi makam tersebut dua hari lalu. Untuk memastikan kebenarannya, ada rencana untuk membongkar makam tersebut dan melakukan tes forensik dan DNA. Sehingga kebenaran secara ilmiah apakah makam di sekitar pohon kamboja dan batu itu adalah makam Tan Malaka atau tidak bisa diketahui.

Hanya, untuk melakukan pembongkaran makam ini tidak bisa dilakukan secara langsung dan seenaknya. Ijin dari berbagai instansi pemerintah harus ada.

Pihak desa Selopanggung sendiri tak keberatan makam itu dibongkar. Kepala Desa Selopanggung Zairi beranggapan jika makam Tan Malaka benar ada di desanya maka itu akan menjadi keuntungan tersendiri bagi desanya. Karena dengan demikian, banyak keuntungan akan didapat, seperti kunjungan wisata akan meningkat. "Ini akan menjadi sejarah besar," ujarnya.

Untuk pembongkaran, tes forensik dan DNA itu, Zairi mengatakan rencananya akan dilakukan Oktober nanti. Dan, saat ini sedang diurus ijin pembongkaran dan tes forensic serta DNA oleh Harry Poeze dan keluarga Tan Malaka.

Dengan adanya tes forensik dan DNA maka teka-teki yang selama ini berkembang di desanya akan segera terjawab. Karena selama ini masyarakat setempat menyakini kalau Tan Malaka dikubur di TPU di Desa Selopanggung. "Kalau secara keyakinan kami percaya Tan Malaka dikubur di sini," ujarnya.

Soal kedatangan Harry A Poeze ke makam Tan Malaka bukanlah hal yang aneh bagi Zairi. Karena orang Belanda itu sudah dua kali mengunjunginya. Yang pertama itu sekitar 12 tahun yang lalu. Apa yang dilakukannya sendiri juga sama, yaitu melihat-lihat kondisi makam. Untuk yang kedua, Harry Poeze melakukannya dari siang hingga sore.

Karena belum ada kejelasan apakah makam itu benar makamnya Tan Malaka atau tidak maka kondisi makam itu tak ubahnya seperti makam desa. Tak ada pengunjung yang ramai berziarah ataupun bangunan yang megah di makam tersebut.

Pemkab Kediri sendiri masih belum bisa memastikan kabar Tan Malaka dikubur di Selopanggung. Melalui Kabag Humas Pemkab Sigit Rahardjo, Tan Malaka dimakamkan di Selopanggung masih ibarat kabar burung. Karena sampai kemarin bukti dan kejelasan soal itu belum ada di tangan pemkab.

Bahkan, kedatangan Harry Poeze dan kerabat Tan Malaka di Selopanggung sendiri, Sigit mengaku tak mengetahuinya. Karena tak ada surat yang masuk ke Pemkab Kediri soal kedatangan mereka. "Kami belum berani memastikan soal Tan Malaka di Kediri kalau belum ada buktinya," pungkasnya. (*) (dikutip dari radar kediri)